Hasyim Muzadi Bantah Said Aqil Siraj, Nahdlatul Ulama Tetap Tolak Lady Gaga!

Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Hasyim Muzadi berharap Polri tetap pada sikapnya yakni tak memberikan izin konser penyanyi Amerika Serikat, Lady Gaga. “Sebaiknya Polri tetap tak memberi izin,” katanya di Jakarta, Senin (21/5). Hasyim kembali mengemukakan tidak banyak manfaat yang dapat dipetik dari konser Lady Gaga. Bahkan lebih banyak ruginya, baik dari segi moral maupun

ELHUSNA PUBLISHING

Melayani Berbagai Pesanan Cetakan Anda. Buku, Cover Buku, Raport Sekolah, Kop Surat, Banner, Spanduk, Dll. CP. 083899591352 / 0853.1375.7183

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tampilkan postingan dengan label Rumah Tangga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rumah Tangga. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Oktober 2012

Cara Bijak Memarahi Anak


Sebagaimana senyuman yang damai, kadang kita harus memarahi anak. Ini bukan berarti kita meninggalkan kelembutan, sebab memarahi dan sikap lemah-lembut bukanlah dua hal yang bertentangan. Lemah-lembut merupakan kualitas sikap, sebagai sifat dari apa yang kita lakukan. Sedangkan memarahi -bukan marah-merupakan tindakan. Orang bisa saja bersikap kasar, meskipun dia sedang bermesraan dengan istrinya.
Persoalan kemudian, kita acapkali tidak bisa meredakan emosi pada saat menghadapi perilaku anak yang menjengkelkan. Kita menegur anak bukan karena ingin meluruskan kesalahan, tetapi karena ingin meluapkan amarah dan kejengkelan. Tidak mudah memang, tetapi kita perlu terus-menerus belajar meredakan emosi saat menghadapi anak, utamanya saat menghadapi perilaku mereka yang membuat kita ingin berteriak dan membelalak. Jika tidak, teguran kita akan tidak efektif. Bahkan, bukan tidak mungkin mereka justru semakin menunjukkan "kenakalannya".
Sekali lagi, betapa pun sulit dan masih sering gagal, kita perlu berusaha untuk menenangkan emosi saat menghadapi anak sebelum kita menegur mereka, sebelum kita memarahi mereka.
Selebihnya, ada beberapa catatan yang bisa kita perhatikan: Ajarkan Kepada Mereka Konsekuensi, Bukan Ancaman
Anak-anak belajar dari kita. Mereka suka mengancam karena kita sering menghadapi mereka dengan gaya mengancam. Mereka melihat bahwa dengan cara mengancam, apa yang diinginkannya dapat tercapai. Dari kita, mereka juga belajar meluapkan kemarahannya untuk menunjukkan "keakuannya".
Saya tidak memungkiri, banyak pengaruh luar yang bisa mengubah perilaku anak. Teman-teman sebaya, khususnya yang sangat akrab dengan anak, bisa mempengaruhi anak. Ia meniru temannya dari cara bicara, bertindak, mengekspresikan kemarahan, sampai dengan kata-kata yang diucapkan. Kadang anak memahami apa yang dikatakan, tetapi terkadang anak tidak tahu apa maksudnya. Ia hanya menirukan apa yang didengar.
Perbincangan kita kali ini bukanlah tentang peniruan. Karena itu marilah kita kembali berbincang bersama bagaimana ancaman kepada anak, acapkali tidak menghasilkan perubahan yang baik. Ancaman tidak banyak bermanfaat untuk menghentikan kenakalan anak atau perilaku yang membuat kita sewot. Sebaliknya, ancaman justru membuat anak belajar berontak dan menentang. Salah satu sebabnya, anak merasa orangtua tidak menyayangi ketika kita meneriakkan ancaman di telinga mereka. Selain itu, kita sering lupa menunjukkan apa yang seharusnya dikerjakan anak manakala kita asyik melontarkan ancaman.
Lalu apa yang perlu kita lakukan? Pertama, Adalah buruk memarahi tanpa memberikan penjelasan. Sekali waktu kita perlu duduk bersama dalam suasana yang mesra dengan anak untuk berbicara tentang aturan-aturan.
Kedua, kita bisa membuat komitmen bersama dengan anak untuk mematuhi aturan. Misalnya, mintalah kepada anak agar tenang ketika ada tamu. Kalau ada yang perlu disampaikan, atau anak menginginkan sesuatu, hendaknya menyampaikan kepada orangtua dengan baik-baik dan bersabar bila belum bisa memenuhinya.
Bersama dengan komitmen ini kita bisa membicarakan dengan anak konsekuensi apa yang bisa diterima bila anak mengamuk di saat ada tamu. Sekali lagi, konsekuensi ini disampaikan dengan nada yang akrab. Bukan ancaman. Bila anak melakukan hal-hal negatif yang sangat mengganggu, orangtua bisa mengingatkan kembali kepada anak dan lagi-lagi tidak dengan nada mengancam.
Di sinilah letak beratnya. Kita acapkali mudah kehilangan kendali. Kita mudah membelalak saat marah, tetapi lupa untuk konsisten.
"Ibu / Bapak Sudah Bilang Berkali-kali."
Perilaku yang menjengkelkan memang lebih mudah diingat, lebih membekas dan cenderung menggerakkan kita untuk segera bertindak. Sebaliknya perilaku positif cenderung kurang bisa mendorong kita untuk memberi komentar, kecuali jika perilaku tersebut benar-benar sangat mengesankan. Konsumen yang kecewa pada suatu produk, akan segera menggerutu ke sana kemari, meski kekecewaan itu sebenarnya tidak seberapa. Tetapi konsumen yang puas cenderung akan diam saja, kecuali jika kepuasan itu sangat menakjubkan. Orangtua dan anak juga demikian. Orangtua mudah ingat perilaku negatif anak, sementara anak mungkin tidak bisa melupakan tindakan orangtua yang menyakitkan hatinya.
Salah satu kebiasaan umum orangtua yang menyakitkan hati anak sehingga bisa melemahkan citra dirinya adalah ungkapan, "Ibu / Bapak sudah berkali-kali bilang, tapi kamu tidak mau mendengarkan."
Ungkapan ini memang efektif untuk membuat anak diam menunduk. Tetapi ia diam karena harga dirinya jatuh, bukan karena menyadari kesalahan. Jika ini sering terjadi, anak akan memiliki citra diri yang buruk. Dampak selanjutnya, konsep diri dan harga diri (self esteem) anak akan lemah. Anak melihat belajar memandang dirinya secara negatif, sehingga lupa dengan berbagai kebaikan dan keunggulan yang ia miliki. Sebaliknya orangtua juga demikian, semakin sering berkata seperti itu kepada anak, kita akan semakin mudah bereaksi secara impulsif. Kita semakin percaya pada anggapan sendiri bahwa anak-anak kita memang bandel, menjengkelkan dan susah dinasehati.
Tidak mudah memang, tetapi kebiasaan memarahi anak dengan ungkapan "Bapak kan sudah bilang berkali-kali" atau yang sejenis dengan itu, harus kita kikis secara sadar dari sekarang. Kita perlu menguatkan tekad untuk berkata yang lebih positif, betapa pun hampir setiap komentar kita masih buruk.
Jangan Cela Dirinya, Cukup Perilakunya Saja
Suatu saat, kira-kira jam setengah dua dini hari seorang anak saya bangun dari tidurnya. Ia kemudian beranjak dan mengajak adiknya yang masih bayi bercanda, padahal adiknya baru saja tertidur. Sebagaimana ibunya, saya juga sempat emosi. Hampir-hampir saya tidak dapat mengendalikan emosi, tetapi saya segera tersadar bahwa yang dilakukan oleh anak saya merupakan cerminan dari dari rasa sayangnya kepada adik. Nah, apa yang terjadi jika saya mencela anak saya? Apalagi kalau saya memelototi dan menghardiknya keras-keras, iktikad baik itu bisa berubah menjadi kemarahan sehingga anak justru mengembangkan permusuhan kepada adiknya. Ia bisa belajar membenci adiknya.
Apa yang saya ceritakan hanyalah sekedar contoh. Tidak jarang anak menampakkan perilaku "negatif", padahal ia tidak bermaksud demikian. Suatu ketika, pulang dari play-group anak saya berkata, "Bapak kurang ajar." Setelah saya tanya maksudnya, ternyata dia tidak mengerti makna kurang ajar. Ia mengatakan, "Kurang ajar itu ya main-main, sembunyi-sembunyian."
Kita sangat mudah keliru menangkap maksud anak. Kita gampang terjebak dengan apa yang kita lihat. Karenanya kita perlu belajar untuk lebih terkendali dalam menilai anak. Jangan sampai terjadi anak punya maksud baik, tetapi justru kita cela dirinya sehingga justru mematikan inisiatif-insiatif positifnya. Bahkan andaikan ia memang melakukan tindakan yang negatif, dan ia tahu tindakannya kurang baik, yang kita perlukan adalah menunjukkan bahwa ia seharusnya bertindak positif. Kita luruskan perilakunya. Bukan mencela dirinya. Sibuk mencela anak membuat kita lupa untuk bertanya, "Kenapa anak saya berbuat demikian?" Di samping itu, celaan pada diri -dan bukan pada tindakan-bisa melemahkan citra diri, harga diri dan percaya diri anak. Pada gilirannya, anak memiliki motivasi yang rapuh.
Sebagian kita merasa tidak merasa mencela anak, padahal ucapan kita menyudutkan anak. Misalnya, "Kamu kenapa tidak mau mendengar nasehat bapak? Heh? Kamu selalu saja ngeyel."
Pada ucapan ini, fokus kemarahan kita adalah anak sebagaimana kita tunjukkan dengan kata kamu. Bukan tindakannya yang salah.
Jangan Katakan "Jangan"
Barangkali tidak ada kata yang lebih sering diucapkan oleh orangtua pada anak melebihi kata "jangan". Kita menggunakan kata jangan begitu melihat anak melakukan tindakan yang kurang kita sukai. Kita juga menggunakan kata jangan, bahkan di saat kita mengharap anak melakukan yang lain. Padahal kata jangan tidak membuat mudah mengerti apa yang seharusnya dilakukan. Akibatnya, anak sulit memenuhi harapan orangtua, sementara orangtua bisa semakin jengkel karena merasa nasehatnya tidak didengar anak. Orangtua merasa anaknya suka ngeyel (kepala batu, orang Bugis bilang).
Lalu, apakah kita tidak boleh memberi larangan? Saya tidak dapat membayangkan betapa hancurnya sebuah dunia tanpa ada larangan sama sekali. Begitu pun keluarga. jangan katakan jangan pada saat ia sedang melakukan kesalahan. Tunjukkanlah apa yang seharusnya dilakukan. Atau bersabarlah sampai ia menyelesaikan maksudnya, Kalau kita tidak mau anak bermain pasir di teras, katakanlah, "Nak, main pasirnya di teras saja, ya?" Singkat, padat, jelas dan positif. Bukan, "Ayo, jangan main pasir di teras. Saya pukul kamu nanti."
Kapan sebaiknya kita sampaikan larangan? Saat terbaik adalah ketika anak sedang akrab dengan orangtua. Dalam suasana netral, larangan yang kita berikan pada anak akan lebih efektif. Anak lebih mudah memahami. Mereka bisa menerimanya sebagai aturan. Bukan menganggapnya sebagai serangan kepada dirinya.
Sumber:Dudung.net

Jumat, 24 Februari 2012

Facebook Status Anak Kita

 
Rabu, 23 November 2011

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

SEKALI waktu, tengoklah status Facebook anakmu. Jelajahilah alam pikirannya. Pahamilah apa yang sedang terjadi padanya. Dan bersiap-siaplah untuk terkejut disebabkan apa yang berharga bagi hidupnya, membanggakan dirinya, menyenangkan hatinya dan menjadi keinginannya justru perkara yang kita membencinya. Mereka sangat berhasrat justru terhadap apa-apa yang kita ajarkan kepada mereka untuk menjauhi. Astaghfirullahal ‘adzim.

Sekali saat, periksalah status Facebook anak-anakmu. Ketahuilah apa yang sedang berkecamuk dalam dirinya. Rasakan apa yang menjadi keinginan kuatnya. Rasakan pula yang membuatnya terkagum-kagum. Dan bersiap-siaplah untuk terperangah jika anak-anak itu lebih fasih mengucapkan kalimat-kalimat yang tak berharga, ucapan yang tak bernilai, pembicaraan yang mendekatkan kepada maksiat, dan bahkan ada yang mendekati kekufuran. Mereka berbicara kepada kita dengan bahasa yang kita inginkan, tetapi mereka membuka dirinya kepada manusia di seluruh dunia dengan perkataan-perkataan ingkar. Mereka menyiarkan keburukan dirinya sendiri, tetapi mereka tidak menyadarinya. Astaghfirullahal ‘adzim.

Kalau suatu saat ada kesempatan, cermatilah apa yang ditulis oleh anakmu, gambar apa yang ditampilkan dan siapa yang dielu-elukan di Facebooknya. Sadari apa yang telah terjadi dan sedang terjadi pada diri mereka. Ketahui perubahan apa yang menerpa jiwa mereka. Dan bersiaplah untuk terkejut bahwa apa yang tampak di depan mata tak selalu sama dengan apa yang terjadi di belakang kita. Mereka bisa bertutur tentang keshalihan karena berharap terhindar dari kedukaan atau bahkan kemurkaan kita. Tetapi di Facebook, mereka merasa merdeka mengungkapkan apa pun yang menjadi kegelisahan, keinginannya dan kebanggaannya yang benar-benar terlahir dari dalam diri mereka.

Beberapa waktu saya memeriksa akun Facebook anak-anak SDIT, alumni SDIT dan mereka yang masih belajar di SMPIT maupun SMAIT. Hasilnya? Sangat mengejutkan. Harapan saya tentang isi pembicaraan anak-anak yang telah memperoleh tempaan bertahun-tahun di sekolah Islam terpadu itu atau yang sejenis dengannya adalah sosok anak-anak yang hidup jiwanya, cerdas akalnya, tajam pikirannya dan jernih hatinya. Tetapi ternyata saya harus terkejut. Sekolah-sekolah Islam itu ternyata hanya mampu menyentuh fisiknya, tetapi bukan jiwanya. Betapa sedih ketika melihat anak-anak yang dulu jilbabnya besar berkibar-kibar, hanya beberapa bulan sesudah lulus dari SDIT atau SMPIT, sudah berganti dengan busana yang menampakkan auratnya dan ia perlihatkan kepada orang lain melalui foto-foto yang mereka pajang di Facebook.

Tentu saja saya tidak dapat mengatakan bahwa pendidikan Islam terpadu, integral atau apa pun istilahnya telah gagal total. Tetapi apa yang dapat dengan mudah kita telusuri dari tulisan mereka di Facebook maupun media sosial lainnya memberi gambaran betapa kita perlu berbenah dengan segera. Selagi aqidah, akhlak dan secara umum agama ini hanya kita sampaikan secara kognitif, maka tak banyak perubahan yang dapat kita harapkan. Jika yang kita berikan adalah pelajaran tentang agama, dan bukan pendidikan beragama yang dikuati oleh budaya karakter yang kuat di sekolah, maka anak-anak itu mampu berbicara agama dengan fasih tapi tidak menjiwai. Tak ada kebanggaan pada diri mereka terhadap apa-apa yang datang dari agama; apa-apa yang menjadi tuntunan Allah Ta’ala dan rasul-Nya.

Astaghfirullahal ‘adzim. Na’udzubillahi min dzaalik.

Lalu apa yang merisaukan dari anak-anak itu? Sekurangnya ada tiga hal. Pertama, cara mereka berbahasa. Ini menggambarkan alam berpikir sekaligus kesehatan mental mereka. Kedua, sosok yang mereka banggakan dan mereka elu-elukan kehadirannya maupun tingkah-lakunya. Sosok yang menjadi panutan (role model). Ketiga, nilai-nilai dan keyakinan yang mereka banggakan sehingga mempengaruhi sikap dan perilaku mereka, meskipun tak tampak di mata orangtua dan guru.

Betapa Mengenaskan Bahasa Mereka


Minggu, 05 Februari 2012

Hikmah Poligami Rosulullah Shalallohu 'alaihi wassalam




sumber Majalah Qiblati edisi 05 th III

Kisah sesungguhnya larangan dari Rasulullah, Kenapa Sayyidah Fatimah tidak boleh dipoligami oleh Ali bin Abu Tholib ?


Mari kita lihat pendapat putrinya nabi muhamamad, fatimah ketika hendak dipoligami sama Ali bin Abi Thalib,
Ali bin Abi Thali berniat menikahi putri Abu Jahal. Ali bin Abi Thalib meminta izin kepada istrinya. mendengar berita itu, Fatimah marah dan melaporkannya kepada ayahanda, Muhammad. Seketika nabi Muhammad marah besar. para sahabat bersaksi bahwa mereka tidak pernah melihat muhammad semarah itu. Muhammad berkata kepada putrinya, “engkau adalah putriku. siapa yang membuatmu marah, berarti membuatku marah juga.”

Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari hadist Almiswar bin Makhromah berkata : “Ali melamar putri Abu Jahal, lalu Fatimah mendengarnya lantas ia menemui Rasul Saw berkatalah Fatimah : kaummu meyakini bahwa engkau tidak pernah marah karena putrimu; Ali menikahi putri Abu Jahal, maka berdirilah Rasulullah Saw dan saya mendengar ketika dia membaca dua kalimat syahadat lalu berkata : aku menikahkan anakku dengan Abul As bin Robi’ dan diatidak membohongiku, sesunggunhya Fatimah itu bagian dari saya, dan saya sangat membenci orang yang membuatnya marah. Demi Allah putri Rasulullah dan putri musuh Allah tidak pernah akan berkumpul dalam naungan seorang laki-laki maka kemudian Ali membatalkan (lamaran itu)”. diriwayatkan Bukhori dan Muslim.
Rasulullah saw bersabda:
فاطمة بضعة مني يريبني ما أرابها ويؤذيني ما آذاها
“Fatimah adalah bagian dari diriku, menggoncangkan aku apa saja yang menggoncangkan dia, dan menyakitiku apa saja yang menyakitinya.”
Rasulullah berkhutbah di dalam mesjid di hadapan kaum muslimin. di situ hadir Ali bin Abi Thalib. maka Rasulullah berkata, “Demi Allah, selama Fatimah adalah putri Rasulullah, maka aku tidak akan mengizinkan putriku serumah dengan putri musuh Allah.”

Sabtu, 04 Februari 2012

Habibie dan Ainun


Buku ini adalah bukti sungguhan bahwa fakta ternyata memang lebih menarik ketimbang fiksi. Membaca buku ini, seperti menyelami banyak dunia dalam satu cerita. Saya tidak berlebihan pada sosok yang memang banyak memiliki kelebihan. Bahwa kisah Habibie dan Ainun, jika mau jujur, telah melampaui Romeo Juliet hingga Layla Majnun.
At the touch of love, everyone becomes poet —Plato
Ada banyak dimensi yang dimuat oleh Pak Habibie dalam buku ini. Jika ingin klasifikasi secara global, buku ini memiliki dua cerita terpisah yang kemudian terangkai dalam lika-liku dua manusia biasa menjadi satu kisah luar biasa.
Pertama, kisah cinta Pak Habibie mulai dari masa muda hingga wafat Bu Ainun. Sesi ini menuturkan banyak pelajaran buat mereka yang telah berkeluarga atau akan menuju ke sana. Di sini, kesederhanaan dan kesetiaan menjadi hiasan terindah keluarga mereka. Di buku ini dituturkan bagaimana Bu Ainun begitu setia menemani Pak Habibie dengan segala konsekwensi sebagai istri sekaligus ibu. Inilah kekuatan perempuan yang—belakangan—banyak dipaksakan dianggap sebagai kelemahan. Dimana banyak perempuan memandang rendah perkara rumah tangga lalu menyimpulkannya pada tiga kata bersajak yang terkesan hina: dapur-sumur-kasur; malah sebaliknya yang dipikirkan dua tokoh ini.
Ketika ditempatkan pada dua posisi: sebagai seorang dokter profesional atau menjadi perempuan yang bekerja di belakang layar yang disimbolkan dengan dapur-sumur-kasur; Bu Ainun malah memilih jalur yang bertentangan dengan arus yang biasa dipilih oleh perempuan—yang merasa—modern dan bermartabat. Satu cuplikan sangat menarik yang direkam Bu Ainun dalam buku harian beliau dan dikutip dalam buku ini, agaknya mampu mewakili defenisi sebenarnya sebaris kata “perjuangan”.
Setelah Thareq agak besar, sudah berumur 4 tahun, saya memberanikan diri bekerja. Memang terasa suatu keputusan tersendiri. Saya profesional. Saya mandiri. Penghasilan pun lebih dari cukup: hampir mengimbangi penghasilan suami. Saya bisa membantu suami membeli tanah dan rumah di Kakerbeck. Juga di desa. Juga jauh dari kota. Waktu berumur 6 tahun, Thareq sakit keras. Dan terasa ada suatu yang mengganjal, sehari-hari mengurusi anak orang lain padahal anak sendiri tidak terawat. Maka kembalilah saya pada falsafah hidup sewaktu di Oberforstbach: falsafah hidup mengutamakan anak dan keluarga dari pada mencari kepuasan profesional dan penghasilan tinggi. Menyesalkah saya mengambil keputusan itu? Menyesalkan saya berketetapan menjadi pecinta, isteri dan ibu? [hal.62]
Inilah pilihan antara menjadi wanita bergengsi atau ibu rumah tangga sederhana. Bu Ainun memilih yang kedua. Pilihan yang menjadi alasan kenapa Pak Habibie menulis ulang kisah ini dan terang-terangan menuturkan, “Jika saya diberikan kesempatan menyampaikan orasi ketika mendapatkan penghargaan dari berbagai lembaga yang bertaraf nasional maupun internasional, saya dengan tulus hati selalu menyampaikan bahwa ‘dibalik sukses seorang tokoh tersembunyi peran dua perempuan yang amat menentukan yaitu ibu dan istri.’” [hal.155]
Bahkan, di tengah kesibukannya, Bu Ainun tak pernah alpa dengan tugas sebagai istri dan ibu. “Ainun selalu mandiri dan tidak pernah mengeluh dan mengganggu pekerjaan saya. Seberat apapun pekerjaannya, ia selalu memberi senyumannya yang menenangkan saya dan selalu kurindukan sepanjang masa. Seberat apapun pekerjaan yang ia hadapi, semua dilaksanakan rapi, rinci dan terus dikonsultasikan dengan saya di manapun kami berada.” [hal.120]
Mungkin “hanya” urusan rumah tangga, namun, siapa yang mengira bahwa perkara rumah tangga ini menjadi hal luar biasa di mata seorang engineer yang kecemerlangan otaknya diakui seluruh dunia.
Dan kedua, kisah tentang perjuangan sang scientist. Jika Benjamin Franklin mengatakan bahwa energy and persistance conquer all things dan empat abad sebelum itu, Ibnu Taimiah telah lebih dulu menuliskan, “Bahwa menjadi terdepan dalam dien ini, hanya bisa dicapai oleh dua cara: as-shabru (persistance) danyaqîn (optimism/energy); maka kisah Habibie dalam buku ini adalah satu dari aplikasi masih hidup statement tersebut di abad ini.
Seperti yang dijelaskan, bahwa jika telah memulai satu pekerjaan, maka Habibie akan lupa kapan harus mengakhirinya. Di sinilah Bu Ainun selalu memperhatikan, mengingatkan waktu makan, minum obat, istirahat dan sebagainya. Bahkan pada saat sakit menjelang wafat, Bu Ainun pernah bersedih; ketika dihampiri Pak Habibie dan ditanya kenapa sedih, “Kamu sakit?” Bu Ainun menggeleng “Kamu takut dengan perangkat rumah sakit ini?” beliau masih menggeleng. “Kamu memikirkan saya?” barulah bu Ainun mengangguk.
Karena memang seperti inilah perjuangan seorang scientist sesungguhnya. Jika sudah fokus, maka dia lupa apa saja. Agaknya ini pelajaran yang perlu ditiru siapapun. Untuk fokus pada satu pekerjaan dan mencintainya. Sebab, Rasul pernah menganjurkan untuk itqân (serius, fokus dan mendalam) pada amalan apa saja yang kita lakukan. Dan, sebagaimana kata sang warrior legendaris, Bruce Lee, ketika memberikan defenisi warrior, Lee mengatakan, The warrior is the average man with laser-like-focus.
“Pekerjaan dan kesibukan saya tidak memberi kesempatan mengikuti perkembangan di Indonesia. Bahkan kewajiban saya sebagai ayah untuk bermain dengan Ilham dan Thareq, tidak dapat saya penuhi. Persaingan antara para ilmuwan sangat berat dan ketat. Saya harus bekerja lebih keras menghadapi para kolega ilmuwan lain yang berbakat dan berpendidikan tinggi. Persaingan keras seperti ini, berpengaruh positif pada prilaku dan pengetahuan pribadi saya. Akibatnya proses keunggulan pada diri saya cepat berkembang.” [hal.68]
Dengan gaya hidup inilah, Habibie tak sekedar mengatakan bahwa sukses bukanlah monopoli kelompok tertentu. Namun, kesempatan bagi siapapun juga. Dan beliau telah buktikan!
Disamping itu, mastering oneself bagi Habibie bukanlah segalanya. Karena keahlian untuk diri sendiri tanpa memberi manfaat untuk lainnya baru mencapai satu dari dua poin. Inilah defenisi cendikiawan bagi pendiri ICMI ini. “Kalau pun dia seorang Guru besar—Profesor Doktor dan meraih hadiah nobel, tetapi dia tidak peduli pada sekitarnya, hanya peduli pada laboratorium dan penelitiannya saja, bagi saya dia adalah seorang ahli atau pakar saja. Bukan seorang cendikiawanan. Mereka yang tidak peduli terhadap kehidupan lingkungannya dan hanya kepada buku dan ilmunya saja, dia bukan cendekiawan dan tidak tepat pantas menjadi anggota ICMI.” [hal.149]
Pada bagian science dalam buku ini, selain kisah perjuangan sang engineer, Habibie juga memaparkan beberapa proyek beliau, penjelasan tentang mesin dan sebagainya. Bagi saya, bagian ini bukanlah hal yang gampang dipahami. Saya bisa mengerti, inilah konsekwensi seorang genius: banyak dari ucapannya tak dipahami orang lain karena dia mengira standar pemahamannya sama dengan lawan bicara. Pada bagian ini, antara saya sebagai pembaca dan Pak Habibie sebagai penulis, hanya ada dua kemungkinan kenapa saya tidak paham tulisan beliau: pertama, penjelasan Pak Habibie memang terlalu genius untuk dipahami; dan kedua, akunya terlalu goblok. Semoga yang kedua salah.
Maka, inilah buku tentang kisah cinta seorang scientist muslim. Pada bagiankisah cintanya, setelah membaca buku ini, engkau akan muak dengan fiktif picisan yang menyampah di pasaran; bahkan engkau bisa muntah dengan sinetron alay ala ababil ABG labil atau serial Korea semu belaka. Pada bagian ini, siapapun akan mengakui betapa agungnya seorang perempuan dibalik segala rahasianya. Entah kenapa, saya jadi teringat ucapan Vermouth, tokoh teras Black Organization dalam komik Detektif Conan, “A secret makes a woman woman“. Dan, memang benar, semakin tersembunyi, perempuan akan semakin agung. Karena mengenai Bu Ainun, hanya keluarganya yang tahu; dan setelah wafat, baru dunia tersentak.
Pada bagian scientist-nya, Habibie menuturkan bahwa yang terbaik yang bisa kita lakukan pada posisi apapun, harus dilakukan! “Saya biasa ditanya oleh wartawan, baik nasional maupun wartawan media asing: ‘Apakah anda bersedia jika anda yang dikehendaki menjadi wakil presiden?’ Saya jawab: kalau saya yang dikehendaki, terus terang saya mengajukan pertanyaan pada diri sendiri, yakni di manakah saya harus berada untuk memberikan kontribusi semaksimal mungkin bagi bangsa dan rakyat Indonesia? Saya akan menjawab: ‘Tempat saya adalah science, titik!’” [hal.224]
Di sini kita juga akan banyak belajar tentang perjuangan dan menyadari bahwa hidup yang tidak berjuang tidaklah indah. Karena dengan berjuang, waktu menjadi lebih berharga, makan terasa lebih nikmat dan tidurpun—meski sejenak—terasa lebih nyenyak; di sini kita akan menjadi lebih bersyukur. Pada bagian ini, semua orang Indonesia harus optimis bahwa apapun yang kita pikirkan, bisa kita capai. Apapun juga! Jika Napoleon Hill terkenal dengan hallmarknya, “What the mind of man can conceive and believe, it can achieve“, maka Habibie adalah bukti hidup yang masih bisa kita lihat. Beliau hidup di masa yang sezaman dengan kita dan beliau juga hidup di habitat yang sama dengan kita :: beliau adalah orang Indonesia! Tak ada lagi alasan apapun bagi setiap individu untuk tidak bergerak!
Dan, pada bagian muslim-nya. Kita diajarkan oleh seorang yang nyaris memiliki segala: kesuksesan, harta, martabat, kecerdasan, ketenaran, keluarga yang mencintai serta segala yang dibutuhkan manusia di kolong langit ini; namun, semua itu bukanlah apa-apa tanpa akhirat. Di dalam buku ini, berulang-ulang frasa shalat malam, doa, nama Allah, bahkan Pak Habibie sendiri sudah diketahui umum, selalu berpuasa senin-kamis. Dalam bahasa Habibie, bagian ini merupakan software yang membuat segala perangkat elektronik menjadi bernilai. Dan, bagi manusia sebagaimana mesin, imtak, iman-takwa (software) inilah yang seutuhnya abadi.
“Jika persyaratan tidak dipenuhi, maka PC dan laptop tidak dapat dimanfaatkan. Harus segera diperbaiki dan jika tidak mungkin diperbaiki lagi, maka harus dibuang. Berarti PC dan laptop atau perangkat keras sifatnya tidak abadi. Ternyata operating system, software, data-data dan sebagainya, yang dimiliki dapat dimanfaatkan lagi. Berarti sifatnya abadi.” [hal.315]

48 tahun 10 hari bukanlah waktu yang sebentar untuk hidup bersama antara Habibie dan Ainun. Buku ini benar-benar highly recommended untuk dibaca siapapun. Pagi penuntut ilmu untuk mengambil semangat juang Habibie. Bagi yang telah berkeluarga untuk mengambil banyak pelajaran. Bagi yang belum untuk membuat patron dari dini. Bagi perempuan untuk belajar tentang kesetiaan Bu Ainun. Bagi laki-laki untuk berkaca lagi jika ingin perempuan tipe Bu Ainun. Bagi rakyat Indonesia untuk optimis dan mengikis penyakit inferiority complex terhadap negara manapun. Bagi muslim, untuk yakin seyakin-yakinnya, bahwa ber-Islam bukan hambatan. Malah sebaliknya, Islam yang memberi kemudahan. Jika tak percaya. Ini, Habibie buktinya!
Namun, seperti biasa, untuk yang belum terlanjur, tentu ada beberapa filtrasi diterapkan di sini dan tak harus ditiru. Seperti cerita pacaran atau pandangan sejarah yang masih bias pada evolusi Darwin. Di samping itu semua, buku ini benar-benar inspirasi!
Semoga Allah mengampuni dosa-dosa Bu Ainun dan menerima semua amal baik beliau serta menjadikan buku ini satu dari jalan amal jariah yang tak putus-putus pahalanya meski nyawa telah terpisah dari jasad.
Identitas Buku
Judul : Habibie & Ainun
Penulis : Bacharuddin Jusuf Habibie
Penerbit : PT. THC Mandiri, Jakarta
Cetakan : Pertama, November 2010

Melestarikan Cinta



Ya kadang cinta kepada Allooh baru sekedar jadi selogan kita, seorang yang cintanya tulus kepada Allooh ketika mencintai sesuatu ia karena Allooh, mencintai Istri karena Allooh.
Istri  hakikatnya adalah milik Allooh, begitu juga sebaliknya seorang istri mencintai suaminya karena Allooh, mencari wanita seperti itu sulit di dunia ini seribu satu.
Suami istri melestarikan cintanya kepada Allooh, dalam teori yang diberikan oleh suami istri dalam menjalin cinta mereka hanya 1 persen dari 100 % yang ia hibahkan cintanya itu kepada Allooh dan Rosul-Nya serta Jihad fii Sabilillah.
Lalu prakteknya dapat membangun jiwa yang ikhlas dan penuh keridoan atas kenyataan sebuah kecintaan, tidak berlebihan dalam mencinta dan dapat melestarikan tidak berlebihan akan sikap kecemberuan (istri).
Semoga Kita dapat mengusahakannya bersama. Walloohu a'lam

Minggu, 31 Juli 2011

"Istriku Tidak Cantik"

Oleh: Fariq Gasim Anuz

Ada kejadian, seorang laki-laki sebelum menikah menginginkan istri yang cantik parasnya dan beberapa kriteria lainnya. Tetapi pada saat pernikahan, dia mendapatkan istrinya sangat jauh dari kriteria yang ia tetapkan. Subhanallah! Inilah jodoh, walaupun sudah berusaha keras, tetapi jika Allah menghendaki lain, semua akan terjadi. Pada awalnya ia terkejut karena istrinya ternyata kurang cantik, padahal sebelumnya sudah nazhar (melihat) calon istrinya tersebut. Sampai ayah dari pihak suami menganjurkan anaknya untuk menceraikan istrinya tersebut.

Tetapi kemudian ia bersabar. Dan ternyata ia mendapati istrinya tersebut sebagai wanita yang shalihah, rajin shalat, taat kepada orang tuanya, taat kepada suaminya, selalu menyenangkan suami, juga rajin shalat malam.
Pada akhirnya, setelah sekian lama bergaul, sang suami ini merasa benar-benar puas dengan istrinya. Bahkan ia berpikir, lama-kelamaan istrinya bertambah cantik, dan ia sangat mencintai serta menyayanginya. Karena kesabaranlah Allah menumbuhkan cinta dan ketentraman. Ternyata faktor fisik tidaklah begitu pokok dalam menentukan kebahagiaan dan keharmonisan rumah tangga, walaupun bisa juga ikut berperan menentukan.

Berikut ini kami bawakan kiat-kiat praktis sebagai ikhtiar merekatkan cinta kasih antara suami istri, sehingga keharmonisan bisa tercipta.
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More